Pondok Pesantren Manba'ul Ulum, Jl. Mawar Merah 124 Sukorembug Sidomulyo Kota Batu Jawa Timur

Pengasuh Pondok Pesantren Manba'ul Ulum

KH. Muhammad Abdul Djalil, Pengasuk Pondok Pesantren Manba'ul Ulum Sukorembug Sidomulyo Kota Batu

Dzurriyah Pondok Pesantren

Keluarga Dalem Pondok Pesantren Manba'ul Ulum pada sebuah acara Haflah Akhirussanah di PPMU

Kegiatan Pengajian Santri

Kegiatan pengajian santri sistem sorogan dan bandongan sebagai pengajian khas pesantren Manba'ul Ulum

Pengurus Putra Pondok Pesantren

Pengurus Putra PPMU dari masa ke masa terus berkelanjutan dengan periodesasi 2 tahun

Kegiatan di Luar Pesantren

Sebagian santri Pondok Pesantren Manba'ul Ulum Batu mengikuti kegiatan Ziarah Auliya' khususnya di Wilayah Jawa Timur

Minggu, 31 Mei 2015

Gallery Wisuda el Mutakhorijin Manba'ul Ulum 1436 Hijriyah

Fadhilah Shalawat yang Luar Biasa



Sesungguhnya Allah dan Malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya dengan sungguh-sungguh (Q.S. Al-Ahzab ayat 56)

Semua sudah maklum, bahwa shalawat memiliki berbagai macam fadlilah (keutamaan). Diantaranya adalah hadis riwayat Amr ibn Ash
عَنْ عَبْدِاللهِ بْنِ عَمْرٍو بْنِ الْعَاصِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا اَنَّهُ سَمِعَ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا رواه مسلم ،
Sesungguhnya Amr bin Al Ash RA mendengar Rosulullah SAW bersabda “Barang siapa yang membaca shalawat sekali saja, Allah SWT akan memberi rahmat padanya sebanyak sepuluh kali”



Dalam kitab Al Fawaid Al Mukhtaroh, Syaikh Abdul Wahhab Asy Sya’roni meriwayatkan bahwa Abul Mawahib Asy Syadzily berkata

رَأَيْتُ سَيِّدَ الْعَالَمِيْنَ صَلَّى اللهُ  عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  فَقُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ صَلاَةُ اللهِ عَشْرًا لِمَنْ صَلَّى عَلَيْكَ مَرَّةً وَاحِدَةً هَلْ ذَلِكَ لِمَنْ حَاضَرَ الْقَلْبَ ؟

Aku pernah bermimpi bertemu Baginda Nabi Muhammad SAW, aku bertanya “Ada hadis yang menjelaskan sepuluh rahmat Allah diberikan bagi orang yang berkenan membaca shalawat, apakah dengan syarat saat membaca harus dengan hati hadir dan memahami artinya?”

قَالَ لاَ، بَلْ هُوَ لِكُلِّ مُصَلٍّ عَلَيَّ وَلَوْ غَافِلاً
Kemudian Nabi menjawab “Bukan, bahkan itu diberikan bagi siapa saja yang membaca shalawat meski tidak faham arti shalawat yang ia baca”

Allah Ta’ala memerintahkan malaikat untuk selalu memohonkan do’a kebaikan dan memintakan ampun bagi orang tersebut. Terlebih jika ia membaca dengan hati hadir, pasti pahalanya sangat besar, hanya Allah yang mengetahuinya.

Bahkan, ada sebuah keterangan apabila kita berdo’a tidak dimulai dengan memuja Allah Ta’ala, tanpa membaca shalawat, kita disebut sebagai orang yang terburu-buru.

عن فَصَالَةَ بن عُبَيدْ رضى الله عنهما قَالَ سَمِعَ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم رَجُلاً يَدْعُوْ فِىْ صَلاَتِهِ لَمْ يَحْمَدِ اللهَ تَعَالَى وَلَمْ يُصَلِّ عَلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم عَجَّلَ هَذَا،

Baginda Nabi mendengar ada seseorang yang sedang berdo’a tapi tidak dibuka dengan memuja Allah ta’ala dan tanpa membaca shalawat, Nabi berkata “orang ini terburu-buru”

ثُمَّ دَعَاهُ فَقَالَ لَهُ اَوْ لِغَيْرِهِ اِذَا صَلَّى اَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِتَحْمِيْدِ رَبِّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ ثُمَّ يُصَلِّى عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ يَدْعُوْ بَعْدُ بِمَا شَاءَ، رواه ابو داود والترمذى وقال حديث صحيح.

Kemudian Baginda Nabi mengundang orang itu, lalu ia atau orang lainnya dinasehati “jika diantara kalian berdo’a, maka harus diberi pujian kepada Allah SWT, membaca shalawat, lalu berdoalah sesuai dengan apa yang dikehendaki”

Apalagi jika bertepatan pada hari Jum’at, maka perbanyaklah membaca shalawat di dalamnya.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إِنَّ مِنْ اَفْضَلِ اَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَاَكْثِرُوْا عَلَيَّ مِنَ الصَّلاَةِ فِيْهِ فَاِنَّ صَلاَتَكُمْ مَعْرُوْضَةٌ عَلَيَّ رواه ابو داود.

Sabda Rasulullah SAW “Hari yang paling mulia adalah hari Jum’at, maka perbanyaklah shalawat di hari itu, karena shalawat kalian dihaturkan kepangkuanku”.

Ulama’ sepakat bahwa shalawat pasti diterima, karena dalam rangka memuliakan Rasulullah SAW. Ada penyair yang berkata

أَدِمِ الصَّلاَةَ عَلَى مُحَمَّدٍ    فَقَبُوْلُهَا حَتْمًا بِغَيْرِ تَرَدُّدٍ
أَعْمَالُنَا بَيْنَ الْقَبُوْلِ وَرَدِّهَا  اِلاَّ الصَّلاَةَ عَلَى النَّبِيِّ مُحَمَّدٍ

Bacalah shalawat selalu, sebab shalawat pasti diterima.

Adapun amal yang lain mungkin saja diterima dan mungkin ditolak, kecuali shalawat. Shalawat pasti diterima. 

Supaya doa berhasil dan terkabul maka saat berdoa kita harus dengan adab dan tata cara yang tepat yaitu dimulai dengan memuji Allah SWT dan membaca shalawat. 
(Ulil/disarikan dari tulisan KH.Shofie Baedlowi)

Orang-Orang Tanpa Hisab di Hari Qiyamah


Pada prinsipnya setiap orang diperintahkan untuk berbuat baik. Karena setiap perbuatan akan diminta pertanggungan jawab di akhirat kelak. Sebuah kebaikan yang rutin atau wirid dalam arti yang luas, juga tidak akan lepas dari pemeriksaan (hisab). Apalagi perbuatan buruk atau perbuatan tidak baik, tentu hisab berlaku. Pemeriksaan juga berlaku untuk pendapatan dan belanja.

Dengan adanya pemeriksaan (hisab) di akhirat, masih juga banyak orang berani menerjang perbuatan yang dilarang. Apalagi kalau hisab ditiadakan? Banyak orang bisa jadi akan berbuat semaunya. Hanya kesepakatan, pengawasan, sanksi hukum positif, atau tingkat ketinggian peradaban yang bisa mencegah mereka. ini pun bersifat mungkin.

Habib Abdullah bin Husein bin Thohir Ba’alawi dalam Is’adur Rofiq-nya menyebutkan sejumlah orang yang bernasib baik tanpa hisab di akhirat,

فائدة: ورد في الأحاديث أن من ابتلى بذهاب بصره أو غيره من البلايا فصبر حتى يلقى الله، ومن مات بطريق مكة ذاهبا أو آيبا، وكل رحيم صبور، وطالب العلم، والمرأة المطيعة لزوجها، والبار بوالديه، والماشي في حاجة أخيه المسلم، ومن ربى صبيا يقول "لا إله إلا الله"، ومن مات ليلة الجمعة أو يومها، ومن بلي بمصيبة في بدنه أو ماله فصبر، ومن قرأ سورة القدر بعد وضوئه ثلاثا، ومن حفر بئرا بفلاة إيمانا واحتسابا، لا يحاسبون.

Pengumuman, tersebut di dalam banyak hadits bahwa orang-orang berikut ini insya Allah tidak akan dihisab di hari Qiyamat. Mereka adalah orang yang diuji dalam bentuk kehilangan penglihatan atau ujian lainnya lalu bersabar hingga wafat, orang yang wafat di tengah jalan baik menuju Mekkah maupun sepulangnya, setiap orang penyayang lagi penyabar, perempuan yang ta’at kepada suaminya, orang yang berbakti kepada orang tuanya, orang yang berjalan untuk membantu orang lain yang sedang memiliki hajat, orang yang mendidik anak kecil mengucap “La ilaha Illallah”, orang yang wafat siang atau malam Jum’at, orang yang kena musibah pada fisiknya atau hartanya lalu bersabar, orang yang membaca surat Al-Qodar sebanyak 3 kali usai berwudhu, dan orang yang membuat sumur di tanah lapang secara ikhlas untuk kepentingan umum.

Untuk itu, umat Islam selain keimanan dan kepatuhan pada rukun Islam perlu mendidik diri sendiri untuk bisa melakukan perbuatan-perbuatan baik seperti di atas. Kalau pun tetap dihisab karena kekurangan syarat di dalam perbuatan baik itu, maka setidaknya kita tetap berbuat baik. Kalau bernasib baik, wafat di siang atau malam Jum'at. Ini yang tidak bisa diusahakan. Ini bergantung semata pada nasib. Wallahu A’lam.

sumber :nu.or.id

Wisuda el Mutakhorijin 1436 Hijriyah

        Pondok Pesantren Manba'ul Ulum adalah sebuah pondok pesantren di Kota Batu, Jawa Timur. Pondok Pesantren yang berada di Desa Sidomulyo Kec. Batu, + 45 km dari pusat kota Batu merupakan pondok pesantren yang masih mempertahankan sistem salaf di tengah tengah gemerlapnya Pesona kota Wisata Batu, dalam artian lebih memprioritaskan pendidikan agama dan pendalaman kitab kuning, dengan memisah antara santri putra dan santri putri dalam ruang yang berbeda.

Di penghujung tahun ajaran 1435-1436 Hijriyah Pondok Pesantren Manba'ul Ulum mengelar Kegitan tahunan yang di laksanakan mulai dari Tamrin, Musbaqoh, Prosesi wisuda El Mutakhorijin dan di tutup dengan Kegiatan Haflah akhirus sanah. 

Di tahun pembelajaran 1435-1436 Hijriyah Madrasah pondok pesantren manba'ul Ulum meluluskan Santri mulai dari tingkatan Awaliyah, Wastiyah, dan Uluwiyah (Aliyah) dengan jumlah santri 17 yang berasal dari berbagai Kabupaten dan Kota di indonesia, sebut saja salah satu Santri asal Grabag Magelang Jawa Tengah menggaku sangat gembira dan haru di saat prosesi pemberian syahadah oleh para masayikh "kami tidak bisa membalas dengan apa pun jerih payah yang telah di korbankan oleh masayikh dan ustad mulai dari waktu yang sedianya di luangkan untuk kami semua, kami hanya bisa membalas dengan iringan do'a semoga amalan para masayikh dan ustad pondok pesantren manba'ul ulum senantiasa di catat oleh Allah, ujarnya.

"Segenap Masayikh, Ustad, dan pengurus Pondok pesantren manba'ul ulum mengucapkan semoga ilmu yang kalian dapatkan menjadikan ilmu yang bermanfaat fi dini wadunya wal akhirot. amin amin ya robbal alamin"

Jurnalistik Pesantren di Era Sosial Media

Media dan Penguasa

Pada zaman sebelum era sosial media bergulir seperti saat ini, opini selalu dikuasai oleh penguasa media. Siapa yang menguasai media, dialah yang bisa memonopoli kebenaran. Demikianlah kira-kira anggapan, atau bahkan fakta yang telah diketahui kebanyakan orang mengenai watak media. Dalam iklim yang seperti itu, media selalu identik dengan uang dan kekuasaan. Artinya, siapa yang punya uang ia bisa menguasai media, siapa yang berkuasa maka ia bisa mengontrol media. Jadi memonopoli kebenaran hanya ada di tangan orang kaya dan para penguasa.

Setidaknya, itu dibuktikan oleh fakta bahwa kita pernah terkurung oleh suatu masa di mana selain yang berkuasa tak boleh berbicara, walaupun mungkin itu adalah kebenaran – yang menyakitkan bagi penguasa. Pada saat itu, menteri penerangan masih sangat relevan, dan bahkan termasuk kementerian dengan peran paling vital. Pada zaman itu, pemberedelan terhadap media-media yang tak seirama dengan suara penguasa adalah hal yang lumrah. Itulah zaman yang biasa kita sebut orde baru.

Setelah orde baru tumbang, kita masuk pada periode yang disebut reformasi. Tapi tampaknya, periode reformasi faktanya malah membalikkan arah media pada titik ekstrem yang sebaliknya. Ketika penguasa era orde baru mengekang dan membungkam para jurnalis dan media-media yang membangkang, maka pada era reformasi, kebebasan berbicara dan menyampaikan pendapat bergulir liar tanpa ada pagar yang bisa membatasinya. Dan, pada saat penguasa tak bisa mengontrol media, justru mereka bisa dibeli oleh orang-orang kaya.

Ya, setidaknya tren perpolitikan kita sejak satu dasawarsa terakhir telah menunjukkan hal itu. Bahwa sejak saat itu dan hingga kini, politik benar-benar tak terpisahkan dari bisnis. Politikus adalah para pebisnis dengan modal super jumbo. Mereka punya uang, punya perusahaan media massa yang besar, lalu membentuk partai politik, atau bergabung dengan sebuah partai politik. Dan dalam setiap pesta demokrasi, terutama dalam pilpres, keberpihakan media-media kepada para kontestan amat sangat mencolok. Reformasi terbukti tak mengubah apapun dari media massa; tetap menjadi alat penguasa.

Pada dua keadaan seperti di atas, baik periode orde baru maupun orde reformasi, suara pesantren sama sekali tidak diperhitungkan. Dan pada dua keadaan tersebut, pesantren sama-sama tidak diuntungkan, boleh jadi karena tak memiliki dua alat untuk mengemudikan media massa itu: uang dan kekuasaan. Bahkan, sebagaimana telah dimaklumi bersama, sejak dahulu hingga kini peran pesantren dan komunitas santri tetap sama; seringkali dijadikan sebagai tunggangan politik dalam pesta demokrasi.

Era Sosial Media

Namun, kini kita tengah memasuki era yang nyaris sama sekali baru: era sosial media. Pada era seperti sekarang ini, suara media-media besar tak lagi benar-benar bisa menjadi suara mainstream. Inilah era di mana masing-masing individu bisa beropini secara bebas, dan hebatnya, opini mereka bisa didengar tidak saja oleh penguasa lokal, akan tetapi oleh dunia.

Bagaimanapun, era sosial media telah memberikan kejutan-kejutan yang barangkali tak pernah diprediksikan sebelumnya. Di Indonesia, sebatas yang saya ingat, pernah heboh perseteruan penulis surat pembaca di suatu surat kabar yang berisi komplain terhadap layanan rumah sakit. Tapi kemudian pihak rumah sakit tidak terima, dan menyeret penulis surat itu ke meja hijau. Alhasil, si penulis surat akhirnya didenda senilai ratusan juta.

Keputusan yang tidak adil ini pun akhirnya menyebar di media sosial. Akhirnya masyarakat Indonesia menggalang dana simpati dalam bentuk uang receh, yang dalam sekejap terkumpul jumlah denda yang dituntutkan itu. Uang receh itu pun selanjutnya diserahkan pada pengadilan. Dan ini, bagaimanapun, telah mencoreng muka lembaga penegak hukum di Indonesia. Bahkan, lebih dari itu, di sejumlah negara, acap kali terjadi demontrasi dan perlawanan terhadap penguasa justru dimonitor dari media sosial semacam twitter dan facebook.

Bahkan pada tahun 2009, Indonesia dihebohkan oleh sebuah buku berjudul Membongkar Gurita Cikeas, Di Balik Skandal Bank Century yang ditulis oleh George Junus Aditjondro. Karena sudah jelas menyerang penguasa, maka buku itu ditarik dari peredaran setelah hanya sehari dipasarkan. Namun justru karena itu orang ingin membacanya. Akhirnya bagian-bagian dari buku itu beredar luas di internet dan jejaring sosial seperti facebook dan twitter. Publik pun jadi tahu apa sebenarnya yang terjadi. Tampaknya, kini pemegang uang dan pemegang kekuasaan tak lagi benar-benar memonopoli kebenaran.

Menangkap Momentum

Hal yang ingin penulis jelaskan dari uraian singkat di atas adalah, bahwa era sosial media seperti saat ini adalah momentum yang tepat bagi jurnalistik pesantren untuk tampil ke permukaan dengan jangkauan yang tidak terbatas. Jika, seperti sejumlah kasus di atas, suara masyarakat sipil bisa mengubah opini media massa dan bahkan mengalahkan penguasa, maka pesantren tentunya punya potensi untuk melakukan hal yang sama.

Tentu, yang penulis maksud bukan berarti menggiring pesantren untuk membentuk opini guna menyerang penguasa. Namun maksudnya, kini suara pesantren sangat mungkin untuk didengar, tidak saja oleh elite dan penguasa negara, tapi bahkan oleh dunia. Dan, penulis melihat sebagian pesantren sudah memiliki kelayakan untuk membangun poros jurnalistik yang profesional, terutama untuk media berbasis tulisan dan voice.

Sungguh, betapa khazanah pesantren yang demikian banyak adalah laksana bahan mentah yang belum dikelola menjadi bahan siap saji, baik itu berupa tradisi, budaya, keyakinan, tuntunan suluk dalam berbagai bidang kehidupan; sosial, ekonomi, politik, gagasan-gagasan dan pemikiran berbasis pesantren, dan lain sebagainya.

Dan, bahan-bahan mentah itu mesti dikelola melalui jurnalistik yang profesional, agar misalnya, ajaran tentang akidah yang tersebar tidak melulu akidah versi Wahhabi; dakwah-dakwah di televisi tak melulu diisi mereka yang tidak mumpuni, agar pemerintah mendengar informasi pembanding soal akidah aliran-aliran sesat semacam Syiah, Liberal, dan lain-lain, sehingga bisa memberikan kebijakan yang benar, dan seterusnya.

sumber : sidogiri.net